![]() |
| Rapat PC GP Ansor Pati di kediaman Gus Syafiq, Komplek Pondok Pesantren Kulon Banon Kajen |
Adanya pemberitaan terkait penganiayaan terhadap salah satu Ulama NU yakni KH. Umar Basri pengasuh Pondok Pesantren al Hidayah Cicalengka Bandung Jawa Barat menimbulkan keprihatinan oleh seluruh kader GP Ansor, tanpa terkecuali dengan GP Ansor Pati.
Kamis tanggal 01 februari 2018 publik kembali dikejutkan dengan adanya status dari laman facebook PERSIS Jawa Barat yang mengumumkan salah satu tokoh PERSIS meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan oleh tetangganya, dan dugaan sementara pelaku mengalami gangguan jiwa, namun masih dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui kepastiannya apakah benar pelaku sedang mengalami gangguan jiwa.
Menanggapi kejadian-kejadian tak wajar tersebut, GP Ansor Pati turut prihatin dan menghimbau kepada seluruh kadernya untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam hal menjaga ulama atau tokoh di lingkungan masing-masing.
Saat ditemui pesantenan.com pasca rapat pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di komplek Pondok Kulon Banon Kajen tepatnya di kediaman Gus Syafiq, Itqon Hakim menyatakan bahwa Ansor Pati mengutuk keras segala bentuk kekerasan atau penganiayaan yang dilakukan oleh siapapun terhadap Ulama atau tokoh-tokoh lainnya, dia berharap agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terjadi lagi di daerah-daerah lain khususnya di wilayah Kabupaten Pati, serta menghimbau kepada seluruh kader Ansor di Kabupaten Pati untuk turut serta melakukan tindakan pencegahan terhadap penganiayaan Ulama dengan cara menggiatkan jama'ah shalat di masjid-masjid dan musholla, hal itu dianggap cara tepat untuk menjaga para Ulama agar terhindar dari aksi-aksi serupa.
Saat ditanya tentang motif penganiayaan, itqon belum bisa menyimpulkan dan tidak ingin terjebak dengan isu-isu PKI atau lainnya, dia mempercayakan sepenuhnya pada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas terkait motif pelaku.
"dengan adanya kejadian-kejadian tersebut yang kita utamakan adalah pencegahan agar tidak ada aksi-aksi serupa kepada para Kyai kita, caranya kita giat shalat berjamaah di Masjid atau Mushalla, dan untuk seluruh santri harus mengikuti kegiatan wirid atau dzikir bareng setelah jama'ah shalat, itu adalah ciri khas kita sekaligus ajaran yang diberikan oleh para guru-guru kita dalam hal ibadah, jangan habis salam langsung plencing atau santri dulu menyebutnya lamcing, mari kita uri-uri dzikir bareng, sekaligus menjaga kyai kita, kita kawal beliau hingga selesai berdzikir, kita derek ke, jika perlu kita kawal kyai-kyai kita sampai ke kediaman" Kata itqon.
Gus Syafiq selaku ketua Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Pati juga menambahkan bahwa kegiatan-kegiatan dzikir bareng setelah shalat berjama'ah merupakan budaya santri NU, dan mengawal kyai juga bagian dari tabarukan santri, agar mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.(BNY)
Gus Syafiq selaku ketua Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kabupaten Pati juga menambahkan bahwa kegiatan-kegiatan dzikir bareng setelah shalat berjama'ah merupakan budaya santri NU, dan mengawal kyai juga bagian dari tabarukan santri, agar mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.(BNY)
