Teroris dan Pengusung Khilafah Biasanya Mereka Baru Belajar Agama


Isu khilafah dan radikalisme masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Hal ini terbukti dari adanya sejumlah kelompok masyarakat yang ikut bergabung dalam gerakan radikal seperti ISIS di Marawi Filipina dan Suriah. Inilah yang menjadi perhatian banyak pihak untuk menyikapi secara bijak agar faham radikalisme dan anti NKRI dapat selalu dibendung sejak dini.

Indonesia sebagai negara mayoritas berpenduduk Muslim terbesar di dunia sedikit banyak tercoreng dengan fakta tersebut. Terlebih Indonesia sudah menjadi icon negara muslim di dunia yang berhasil menerapkan nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Semua ini menjadi tantangan cukup serius terkait dengan pemahaman keagamaan yang salah sehingga kerap memicu konflik, baik teror maupun penyebaran ideologi radikal.


Menanggapi hal itu, salah seorang tokoh nasional Moh. Mahfud MD menilai bahwa penyerapan ajaran agama yang keliru memunculkan teror dan ideologi radikal.

Menteri Pertahanan era Presiden KH Abdurrahaman Wahid ini berpandangan bahwa orang yang sok meneror atas nama agama lalu bunuh diri agar masuk surga itu adalah mereka yang tidak mengerti agama.

“Sama dengan mereka yang ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Biasanya mereka baru belajar agama. Kalau diajak berdebat mereka tidak akan pernah menang,” ungkap Mahfud, Rabu (7/6) lalu di Jakarta.


Ia menambahkan, semua ulama mengatakan teroris itu sesat dan yang tidak mengatakan sesat kan terorisnya sendiri. Terorisme itu membuat kerusuhan dan membunuh orang secara masal di tempat-tempat umum.

“Itu dilarang oleh agama apapun,” tegas Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) ini.

Previous Post Next Post

Recent in Sports

{getMailchimp} $title={Stay Informed} $text={Subscribe to our mailing list to get the new updates.}